KOMPAS.com — Bagi sebagian warga Jakarta, ruang terbuka hijau (RTH) dan ruang publik menjadi pilihan untuk tetap aktif bergerak tanpa harus mengeluarkan banyak biaya ke pusat kebugaran.
Daniel Kalis Jatimukti (25), misalnya, rutin berolahraga sekitar tiga sampai empat kali dalam sepekan. Selain pergi ke gym, ia memilih jogging di sejumlah ruang publik di Jakarta Selatan.
Beberapa lokasi yang pernah digunakannya antara lain kawasan Gelora Bung Karno (GBK), Taman Margasatwa Ragunan, hingga ruang terbuka hijau yang berada di sekitar Cilandak Town Square (Citos).
"Kalau jogging aku memang kalau bisa mencari yang murah," kata Kalis saat diwawancarai Kompas.com pada Rabu (30/9/2026).
Public Relation salah satu Non-Governmental Organization (NGO) di Jakarta itu mengaku, biaya menjadi salah satu pertimbangannya ketika memilih tempat berolahraga. Untuk gym, ia mengeluarkan sekitar Rp 220.000 per bulan.
Menurutnya, biaya tersebut masih sepadan karena ia menganggap olahraga di gym sebagai investasi untuk kesehatan di masa depan. Namun, untuk aktivitas seperti jogging, ia cenderung memilih tempat yang murah atau gratis.
Di Ragunan, misalnya, Kalis cukup membayar tiket masuk dan biaya parkir. Sementara ketika berolahraga di kawasan GBK, ia menyebut biaya yang dikeluarkan relatif kecil.
Keberadaan ruang publik yang mudah dijangkau juga membuat Kalis tidak pernah membatalkan olahraga karena kesulitan mendapatkan tempat atau terkendala biaya.
"Keberadaan taman atau fasilitas olahraga gratis sangat membuat aku mudah untuk rutin berolahraga karena jaraknya dekat dan enggak bayar," ujarnya.
Bergerak Tidak Harus di Fasilitas Olahraga Khusus
Menurut Prof. Dr. dr. Meilinah Hidayat, M.Kes., ahli ilmu gizi dari Universitas Kristen Maranatha Bandung, aktivitas fisik tidak harus dilakukan di fasilitas olahraga khusus untuk memberikan manfaat bagi kesehatan.
Aktivitas sederhana seperti berjalan kaki, bersepeda, melakukan pekerjaan rumah tangga, bermain aktif bersama anak, hingga menggunakan tangga dapat menjadi bagian dari aktivitas fisik sehari-hari.
"Manfaat kesehatan itu bisa didapat dari aktivitas fisik yang lain, misalnya berjalan kaki, bersepeda, bahkan melakukan pekerjaan rumah tangga juga itu suatu aktivitas fisik," ujar Prof. Meilinah melalui sambungan telepon kepada Kompas.com, Jumat (2/9/2026).
Hal yang penting, kata dia, aktivitas fisik dilakukan secara rutin dan disesuaikan dengan kemampuan masing-masing individu. Dengan demikian, keberadaan ruang publik dapat membantu masyarakat memiliki lebih banyak pilihan untuk bergerak dalam kesehariannya.
Lingkungan Ikut Memengaruhi Aktivitas Fisik Prof. Meilinah menjelaskan, kurangnya aktivitas fisik berkaitan erat dengan meningkatnya risiko obesitas.
Ketika tubuh menggunakan lebih sedikit energi, sementara asupan energi melebihi kebutuhan tubuh, kelebihan energi dapat disimpan sebagai lemak.
Namun, ia menekankan bahwa obesitas tidak hanya disebabkan oleh kurangnya aktivitas fisik.
Faktor lingkungan dan kebiasaan sehari-hari juga dapat berpengaruh. Lingkungan yang tidak mendukung aktivitas fisik, seperti trotoar yang tidak nyaman, ruang terbuka yang jauh atau tidak aman, serta terbatasnya fasilitas olahraga, dapat membuat seseorang lebih sulit aktif bergerak.
Begitu pula dengan kebiasaan sehari-hari yang membuat seseorang terlalu banyak duduk, seperti bekerja di depan komputer, menggunakan gawai, atau menghabiskan banyak waktu dengan aktivitas pasif. "Kurang aktivitas fisik itu berarti tubuh menggunakan energi lebih sedikit.
Dan jika berlangsung terus-menerus, dan asupan energinya melebihi kebutuhan tubuh, kelebihan energi ini disimpan sebagai adiposa atau lemak," jelasnya. Selain aktivitas fisik dan pola makan, Prof. Meilinah menyebut kurang tidur dan stres juga dapat berpengaruh terhadap risiko obesitas.
RTH Memudahkan Masyarakat Bergerak Karena itu, keberadaan ruang publik yang mudah diakses menjadi salah satu bagian dari lingkungan yang dapat mendukung masyarakat menjalani gaya hidup lebih aktif.
Prof. Meilinah menilai taman, RTH, jalur pejalan kaki, lapangan, dan ruang publik lainnya dapat menyediakan tempat bagi masyarakat untuk berjalan, berlari, bermain, atau melakukan aktivitas fisik lainnya.
"Ruang publik di Jakarta sangat penting karena bisa menyediakan tempat yang mudah diakses masyarakat untuk aktif bergerak," katanya.
Menurut dia, masyarakat tidak cukup hanya diimbau untuk meningkatkan aktivitas fisik. Lingkungan perkotaan juga perlu mendukung agar aktivitas tersebut lebih mudah dilakukan.
Misalnya, dengan menyediakan jalur pejalan kaki yang nyaman dan jalur bersepeda, serta ruang publik yang aman dan mudah dijangkau.
"Jangan cuma dihimbau untuk ayo tingkatkan aktivitas fisik, ayo gemar berolahraga, tapi tidak didukung oleh fasilitas kota yang baik," ujar Prof. Meilinah.
RTH Bukan Satu-satunya Pilihan Bagi Kalis, fasilitas RTH di Jakarta sejauh ini sudah cukup membantu. Ia menilai sejumlah ruang terbuka memiliki trek jogging yang memadai untuk aktivitas fisik sehari-hari.
Namun, ia melihat masih ada kebutuhan terhadap fasilitas olahraga lain, terutama fasilitas indoor dengan harga terjangkau. Menurutnya, fasilitas seperti lapangan badminton, basket, atau futsal yang murah masih lebih sulit ditemukan dibandingkan fasilitas olahraga premium.
Ia berharap tersedia fasilitas olahraga terpadu yang dapat digunakan masyarakat untuk berbagai jenis olahraga dengan biaya yang terjangkau.
"Bagus ketika misal mungkin dari Pemda atau siapapun itu bisa membuat fasilitas olahraga terpadu, jadi bisa untuk berbagai macam olahraga dengan harga yang terjangkau bagi semua kalangan," kata Kalis. Prof. Meilinah juga menekankan bahwa lingkungan ideal untuk mendukung gaya hidup aktif bukan hanya soal tersedianya ruang hijau.
Lingkungan tersebut harus aman, mudah dijangkau, dapat digunakan berbagai kelompok masyarakat, serta memiliki kondisi udara yang baik. "Ruang terbuka hijau tentu sangat penting, taman kota, kemudian dengan udara yang cukup segar dan tidak polusi," ujarnya.
Dengan pilihan ruang publik yang mudah diakses, masyarakat memiliki lebih banyak kesempatan untuk memasukkan aktivitas fisik ke dalam rutinitas sehari-hari. Aktivitas tersebut kemudian dapat menjadi salah satu bagian dari upaya menjaga kesehatan dan mengurangi risiko obesitas, bersama dengan pola makan seimbang, tidur cukup, serta kebiasaan hidup sehat lainnya.