Jakarta - Persiapan ibadah haji dan umrah tidak hanya berkaitan dengan perlengkapan dan kesiapan fisik. Kesehatan pernapasan juga perlu menjadi perhatian, terutama bagi jemaah lanjut usia (lansia) dan mereka yang memiliki penyakit penyerta.
Hal tersebut turut menjadi perhatian dalam kampanye edukasi 'Lindungi Napasmu, Jaga Momen Berarti' yang diselenggarakan Pfizer Indonesia. Kampanye ini menghadirkan dokter spesialis, dokter keluarga, serta perwakilan pasien dan caregiver untuk membahas temuan survei mengenai kesehatan pernapasan orang dewasa.
Hasil survei terbaru yang dirilis oleh YouGov, di antara responden Muslim, 43% berencana menunaikan haji atau umrah dalam dua tahun ke depan. Mereka yang pernah atau berencana berangkat sudah mengantisipasi sejumlah tantangan kesehatan, seperti cuaca panas (69%), dehidrasi (65%), dan risiko penyakit pernapasan (57%).
Selama menjalankan ibadah, jemaah akan beraktivitas dan berkumpul bersama banyak orang. Namun, survei menunjukkan hanya 11% responden dewasa yang mengetahui bahwa orang yang berada di tengah kerumunan termasuk kelompok yang rentan mengalami pneumonia serius.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Tropik Infeksi, dr. Joyce Bratanata, mengatakan jemaah haji dan umrah perlu mewaspadai risiko infeksi saluran pernapasan. Hal ini dikarenakan selama menjalankan ibadah, jemaah akan bertemu dan beraktivitas bersama banyak orang dalam satu tempat.
Kondisi tersebut menjadi perhatian khusus bagi lansia dengan komorbid. Dr. Joyce menyebut lansia berusia 60 tahun ke atas yang memiliki kondisi seperti diabetes, asma, penyakit kardiovaskular, maupun riwayat stroke perlu lebih memperhatikan kondisi kesehatannya.
"Jadi diabetes itu komorbid, kemudian hipertensi, penyakit kardiovaskular (jantung, pembuluh darah), kemudian stroke, itu komorbid," papar dr. Joyce dalam diskusi panel kampanye 'Lindungi Napasmu, Jaga Momen Berarti' yang diselenggarakan oleh Pfizer, Kamis (24/9/2026).
Pneumonia pneumokokus merupakan infeksi paru yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus pneumoniae. Kondisi ini berbeda dengan flu yang disebabkan oleh virus, meski keduanya sama-sama dapat menyerang saluran pernapasan. Infeksi saluran pernapasan akut juga dapat berkembang menjadi pneumonia.
"Jadi kalau memang ada orang yang batuk, pilek, itu jangan dianggap sepele. Karena itu bisa menjadi suatu infeksi yang lebih berat," ujarnya.
Dokter Keluarga Kimia Farma, dr. Meidi Nursasih, turut menyoroti berbagai faktor yang dapat memengaruhi kondisi kesehatan jemaah selama berada di Tanah Suci. Selain kerumunan dan komorbid, kondisi fisik juga perlu diperhatikan, terutama karena jemaah harus melakukan perjalanan jauh.
Durasi penerbangan dan kurangnya waktu istirahat dapat membuat tubuh kelelahan. Setibanya di Arab Saudi, tubuh juga perlu beradaptasi dengan perbedaan waktu atau jet lag, serta perubahan iklim dan cuaca.
"Emang selain komorbid, yang jelas emang faktor fisik. Fisik emang benar-benar ini ya, ya bayangkan saja dari Indonesia sendiri emang udah capek. Di pesawat kurang istirahat, begitu nyampe di sana langsung jet lag. Ya kan, karena perbedaan waktu. Gitu kan. Selesai perbedaan waktu, yang disapa oleh kita, disapa nih bodi kita yang pertama kali adalah oleh iklim, cuacanya," ujarnya.
Karena itu, jemaah perlu menjaga kondisi tubuh selama menjalankan rangkaian ibadah. Pengendalian penyakit penyerta, cukup beristirahat, menjaga asupan makanan, mencuci tangan, serta menggunakan masker di tempat ramai dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan.
Dokter Keluarga Prodia, dr. Kristin Tjandra, juga mengingatkan jemaah, khususnya lansia, untuk menjaga kondisi tubuh selama berada di Tanah Suci. Menurutnya, rangkaian ibadah yang cukup panjang dapat membuat jemaah mengalami kelelahan.
"Nah, kemudian di haji pun waktunya lumayan lama. Capek, lelah, ditambah lagi apa? Usia bagi pesertanya juga banyak yang lansia. Jadi Bapak-Ibu, kalau misalnya di sini ya ada yang, 'Oh, kebetulan orang tua saya alhamdulillahnya akan berhaji dokter di tahun ini.' Tolong sampaikan ke mereka untuk menjaga diri biar apa? Tidak terkena pneumonia saat di sana maupun saat kembali ke Indonesia, ya," paparnya.
Temuan lain menunjukkan adanya kesenjangan antara keinginan masyarakat untuk berkonsultasi dengan dokter dan praktiknya. Sebanyak 77% orang Indonesia menyatakan kemungkinan besar akan berbicara dengan dokter tentang cara melindungi diri dari penyakit pernapasan serius. Namun, ketika ditanya apakah mereka pernah melakukannya, hanya 24% yang menjawab pernah.
Hal ini menjadi pengingat pentingnya melakukan persiapan kesehatan sebelum menunaikan ibadah haji atau umrah. Calon jemaah sebaiknya memeriksakan kondisi kesehatan sejak jauh-jauh hari, bahkan sekitar enam bulan sebelum keberangkatan.
Selain berkonsultasi dengan dokter, calon jemaah perlu mengikuti prosedur kesehatan yang telah ditetapkan pemerintah, termasuk menjalani pemeriksaan kesehatan atau medical check-up sesuai ketentuan.
"Jadi kita medical check-up, ya, terus ada pemeriksaan yang khusus-khususnya tuh, Mbak. Ya karena ada list-nya kan. Pemerintah tuh pasti sudah kasih list tuh. Misalnya pemeriksaan darah, kolesterol, everything dan lain-lain. Nah, dari situ kita kan kasih resume bahwa apakah orang tersebut ya, atau Bapak atau Ibu gitu ya, oke enggak nih? Gitu ya," ujar dr. Kristin
Pemeriksaan tersebut dilakukan untuk mengetahui kondisi kesehatan calon jemaah secara menyeluruh, termasuk mendeteksi penyakit yang mungkin belum disadari sebelumnya. Jika ditemukan kondisi tertentu, calon jemaah dapat memperoleh penanganan atau dirujuk ke dokter spesialis agar kondisi kesehatannya lebih terkontrol sebelum keberangkatan.
Selain pemeriksaan kesehatan, calon jemaah juga perlu melengkapi vaksinasi yang menjadi persyaratan sesuai ketentuan perjalanan haji, termasuk vaksin meningitis dan polio. Persiapan sejak enam bulan sebelumnya dapat memberikan waktu untuk menjalani pemeriksaan, melengkapi vaksinasi, serta menangani kondisi kesehatan yang perlu diperhatikan sebelum berangkat.
"Kenapa harus haji aja ada polio meningitis? Karena kita lama di sana. Itu. Kenapa umrah itu not should be kayak polio? Karena enggak lama. Tapi gampang kenanya di meningitisnya," katanya.
Obat-obatan yang rutin dikonsumsi juga perlu disiapkan sebelum keberangkatan. Calon jemaah sebaiknya membawa persediaan obat yang cukup sesuai kebutuhan selama perjalanan dan rangkaian ibadah, serta tetap mengonsumsinya sesuai anjuran dokter.
Jika mengalami keluhan ketika sudah berada di Tanah Suci, jemaah juga dianjurkan segera menghubungi tenaga kesehatan, terutama jika kondisi tidak kunjung membaik setelah beberapa hari.
"Kan di sana ada tim kesehatannya. Yang penting jujurlah sama kondisi," pungkasnya.
Dengan persiapan kesehatan sejak sebelum keberangkatan, jemaah dapat lebih siap menghadapi berbagai tantangan selama menjalankan ibadah haji dan umrah, termasuk risiko infeksi saluran pernapasan.
Melalui kampanye 'Lindungi Napasmu Jaga Momen Berarti', setiap orang dewasa di Indonesia diajak untuk membawa satu pertanyaan pada kunjungan berikutnya ke dokter: "Apakah saya atau orang tua saya berisiko terkena pneumonia?"
Orang dewasa berusia 50 tahun ke atas, serta mereka yang hidup dengan penyakit seperti diabetes, penyakit jantung atau penyakit paru kronis, dianjurkan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk memahami risiko pribadi mereka terhadap penyakit pernapasan serius, termasuk pneumonia pneumokokus.