KOMPAS.com - Mendengkur kerap dianggap sebagai salah satu tanda seseorang kelelahan akibat aktivitas sehari-hari, tetapi kondisi tersebut dapat berupa gangguan tidur sleep apnea.
Mengutip Cleveland Clinic, Sabtu (17/10/2026), kondisi ini dapat terjadi tanpa suara dengkuran yang keras, bahkan tanpa dengkuran sama sekali.
Spesialis kedokteran tidur, Sunjeet Kaur, MD menjelaskan bahwa obstructive sleep apnea (OSA) dapat dialami seseorang meskipun tidak menunjukkan gejala mendengkur yang jelas.
Ia mengatakan kurang dari 50 persen kasus OSA muncul tanpa dengkuran yang terdengar. Kondisi tersebut tetap perlu diwaspadai karena dapat mengganggu kualitas tidur dan berdampak pada kesehatan dalam jangka panjang.
Obstructive sleep apnea merupakan gangguan tidur yang terjadi ketika otot dan jaringan di tenggorokan terlalu rileks saat seseorang tidur.
Kondisi ini menyebabkan saluran pernapasan menyempit atau tertutup sebagian maupun sepenuhnya yang mengakibatkan aliran udara terhambat dan pernapasan dapat berhenti sementara secara berulang selama tidur. Dengkuran biasanya muncul ketika udara melewati saluran pernapasan menyempit. Tidak semua orang dengan OSA mengeluarkan suara dengkuran.
Sebagian orang hanya mendengkur sesekali dengan suara pelan. Sebagian lainnya tidak menunjukkan dengkuran yang dapat dikenali orang di sekitarnya. Kondisi tersebut membuat sleep apnea lebih sulit dikenali, terutama bagi orang yang tidur sendirisan dan tidak menyadari perubahan pola pernapasan saat tidur.
Meski tidak mendengkur, seseorang tetap dapat mengalami sejumlah gejala yang berkaitan dengan sleep apnea. Sunjeet menjelaskan bahwa gejala tersebut dapat memengaruhi kualitas tidur, tingkat energi, dan kondisi tubuh ketika terjaga.
Beberapa gejala yang perlu diperhatikan seperti: Mengantuk berlebihan pada siang hari, Bangun tidur dengan perasaan belum cukup beristirahat, Sakit kepala pada pagi hari, Sering terbangun pada malam hari, Kelelahan meskipun sudah tidur.
Menurutnya, perempuan juga dapat mengalami OSA dengan gejala yang berbeda dari gambaran umum sleep apnea yang identik dengan dengkuran keras. Pada perempuan, kondisi ini dapat ditandai dengan kebiasaan terbangun berkali-kali pada malam hari tanpa riwayat mendengkur keras.
“Pada wanita, apnea tidur obstruktif umumnya ditandai dengan beberapa kali terbangun di malam hari, tanpa riwayat mendengkur keras,” jelasnya.
Selain itu, orang yang tidur sekamar mungkin menyadari adanya jeda pernapasan saat seseorang tertidur. Informasi tersebut dapat membantu mengenali kemungkinan gangguan tidur yang tidak disertai dengkuran mencolok.
Gejala-gejala tersebut tidak selalu berarti seseorang mengalami sleep apnea, pemeriksaan kesehatan sangat diperlukan untuk mengetahui penyebab keluhan lebih tepat.
Pada umumnya, sleep apnea tanpa mendengkur memiliki mekanisme dasar yang sama dengan OSA. Perbedaannya terletak pada ada atau tidaknya suara dengkuran yang muncul ketika saluran pernapasan mengalami penyempitan.
Terdapat sejumlah faktor yang meningkatkan risiko OSA, antara lain:
Kelebihan berat badan atau obesitas Pertambahan usia Riwayat sleep apnea dalam keluarga Hidung tersumbat Kebiasaan merokok Konsumsi alkohol Pembesaran amandel atau bentuk rahang tertentu yang memengaruhi saluran pernapasan Perubahan hormon, termasuk saat menopause.
Selain OSA, terdapat jenis sleep apnea lain yang disebut central sleep apnea (CSA). Kondisi ini terjadi ketika otak tidak memberikan sinyal yang tepat kepada tubuh untuk bernapas selama tidur.
CSA tidak disebabkan oleh penyumbatan saluran pernapasan. Menurut Sunjeet, jenis gangguan ini tidak disertai dengkuran dan lebih jarang terjadi dibandingkan OSA.
CSA dapat berkaitan dengan kondisi kesehatan tertentu, seperti gagal jantung, penggunaan opioid dalam jangka panjang, atau stroke. Kapan perlu memeriksakan diri? Sunjeet mengingatkan bahwa orang yang tidak mendengkur atau tidak menyadari dengkurannya, terkadang menganggap dirinya tidak mungkin mengalami sleep apnea.
Anggapan tersebut dapat membuat seseorang menunda untuk melakukan pemeriksaan, padahal jika tidak ditangani dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi, gangguan detak jantung, masalah metabolisme, serta gangguan fungsi kognitif.
Karena itu, seseorang sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila sering terbangun pada malam hari, terus merasa lelah setelah tidur, atau mengalami kantuk berlebihan pada siang hari. Sleep apnea dapat ditangani dengan perubahan gaya hidup, penggunaan alat continuous positive airway pressure (CPAP), maupun terapi lain sesuai dengan kondisi pasien.
Dengan mengenali gejala yang tidak selalu disertai dengkuran, seseorang dapat lebih waspada terhadap gangguan tidur dan memperoleh pemeriksaan yang diperlukan sebelum dampaknya berkembang lebih jauh.