KOMPAS.com - Setiap orang pasti punya cara tersendiri untuk meredakan stres harian. Namun, praktik kesadaran diri (mindfulness) dan rutin menulis jurnal rasa syukur terbukti lebih ampuh dalam menjaga pikiran tetap jernih.
Kebiasaan ini rupanya juga menguntungkan kesehatan jantung, berdasarkan riset berjudul "Positive Psychology Interventions and Cardiovascular Health: Frequency and Duration to Sustain Cardiovascular Benefits" (2026).
Riset mengungkapkan, intervensi positif seperti melatih kesadaran diri dan optimisme sukses menormalkan tekanan darah.
Rutinitas ini diyakini mampu menurunkan penanda peradangan tubuh, serta berbagai faktor risiko penyakit kardiovaskular lainnya.
Hubungan erat emosi positif dengan kesehatan jantung
Durasi ideal intervensi psikologi positif
Tim peneliti mengulas 18 studi berbeda untuk menemukan takaran intervensi psikologi positif yang ideal bagi penderita kardiovaskular.
Lektor Kepala bidang Psikologi di Pepperdine University Graduate School of Education and Psychology, Natasha Thapar-Olmos, PhD, menyebut perbaikan jangka pendek baru terlihat jika intervensi rutin dilakukan minimal delapan minggu berturut-turut
Untuk mempertahankannya dalam jangka panjang, terapi ini bisa dilakukan secara berkala.
Ahli Kardiologi di Vital Heart & Vein, Nidal M. Ganim, MD, menegaskan bahwa menjaga kondisi mental agar terus positif tidak hanya berdampak pada kesehatan jantung, melainkan membawa manfaat menyeluruh bagi sekujur tubuh manusia.
"Studi ini lebih lanjut menegaskan bahwa melatih pikiran menuju keadaan mental dan emosional yang lebih positif tidak hanya memperbaiki tekanan darah, mengurangi risiko penyakit jantung, dan menurunkan peradangan, tetapi juga menciptakan manfaat yang dapat diukur di seluruh tubuh," ujar dr. Ganim.
kemampuan mengelola stres dan membangun ketahanan diri ikut melengkapi efektivitas perawatan medis konvensional.
Kepala Klinis Kardiologi di Sentara Health, Deepak Talreja, MD, menjelaskan, hal ini berkaitan erat dengan rutinitas olahraga, upaya perbaikan gizi, pengelolaan kolesterol, hingga kebiasaan berhenti merokok.
"Dari sudut pandang kardiologi, studi ini memperkuat konsep penting yang semakin kita kenali baik dalam pengobatan Timur maupun Barat belakangan ini, yaitu kesejahteraan emosional dan kesehatan kardiovaskular berhubungan erat," jelas dr. Talreja.
Thapar-Olmos mengingatkan bahwa mayoritas partisipan studi ini didominasi kelompok kulit putih berpenghasilan menengah ke atas.
Alhasil, temuan ini mungkin tidak berlaku sama jika diterapkan pada kelompok masyarakat dengan latar belakang ekonomi maupun ras yang beragam.
Manfaat nyata untuk fisik dan stabilitas mental
Dampak bagi kesehatan fisik
Melatih kesadaran diri secara konsisten akan langsung mengaktifkan sistem saraf parasimpatis yang bertugas mengatur fase istirahat dan pencernaan tubuh.
Sistem pemulihan ini merupakan kebalikan dari respons perlawanan alami tubuh saat terancam.
"Dengan mempraktikkan kesadaran diri, kita dapat melatih tubuh kita untuk kembali ke mode istirahat, yang menurunkan tekanan darah, memperlambat detak jantung, dan memfasilitasi fungsi pemulihan tubuh," papar Thapar-Olmos.
Menurutnya, ini membantu masalah tidur, manajemen nyeri, dan hiperaktivitas. Sementara itu, dr. Talreja menyebutkan, pasien yang rajin melatih kesadaran dirinya biasanya mulai lebih terikat untuk mengadopsi gaya hidup sehat lainnya.
Kebiasaan ini mendorong mereka lebih rajin berolahraga, menjaga pola makan, hingga lebih patuh mengonsumsi obat-obatan harian dari dokter. Langkah ini secara efektif memperbaiki kualitas tidur hingga meredakan peradangan sistemik.
Dampak bagi stabilitas mental
Praktik meditasi yang berfokus pada ritme pernapasan terbukti merangsang kemampuan mengendalikan emosi.
Psikolog di Kaiser Permanente, Emilio Licea, PsyD, menjelaskan bahwa kebiasaan tersebut membuat orang menjadi lebih peka terhadap kondisi saat ini, sehingga mampu merespons tekanan hidup dengan jauh lebih tenang.
Keuntungan ini berdampak pada peningkatan motivasi diri dan kepatuhan pada kebiasaan sehat. Pendekatan tersebut juga diyakini dapat menurunkan angka kecemasan maupun depresi.
Apa saja yang bisa dilakukan?
Intervensi psikologi positif dirancang agar pasien bisa membangun ketahanan emosional yang mumpuni, sehingga mampu merespons stres dengan sehat.
Dokter Talreja mengingatkan bahwa tujuannya bukan untuk mengabaikan rasa tertekan atau memaksakan diri agar selalu positif, melainkan membekali kamu dengan alat praktis pengelola stres harian.
Kamu bisa menjadikan latihan pernapasan dalam, relaksasi otot progresif, hingga kelas yoga sebagai rutinitas harian.
Membayangkan masa depan cerah, mengenang momen bahagia, memikirkan kesuksesan di masa lalu, dan mengevaluasi kekuatan diri juga tak kalah penting.
Selain itu, kamu sangat disarankan menumbuhkan kebiasaan menulis catatan rasa syukur, melatih optimisme, hingga rutin merencanakan tindakan kebaikan.